Kamis, 08 Januari 2009

Lahir Prematur Perburuk Sensitivitas

Kelahiran seorang anak merupakan saat yang dinantikan banyak orangtua. Namun, jika anak lahir prematur karena berbagai penyebab, para orangtua hendaknya mewaspadai proses tumbuh kembang sang buah hati.

Hal ini disebabkan, kelahiran prematur bisa menyebabkan perburukan permanen pada daya sensor anak. Hasil studi di Inggris terhadap 43 anak usia 11 tahun yang lahir 14 minggu lebih awal menunjukkan, daya sensor anak-anak itu terhadap suhu udara berkurang.

Sebagaimana dilaporkan dalam jurnal Pain, kelahiran prematur kemungkinan juga memengaruhi persepsi tentang rasa sakit. Para investigator dari The University College London menyatakan, sistem saraf pemicu rasa takut yang biasanya mudah diserang berubah pada tahap sangat awal perkembangan.

Bayi prematur yang dirawat secara intensif terpapar berulang kali mengalami prosedur yang menyakitkan, di antaranya pemeriksaan darah, yang kemungkinan jadi pemicu perubahan sistem saraf itu.

Temuan tersebut penting seiring meningkatnya jumlah bayi yang dilahirkan secara prematur di seluruh dunia. Semua pihak terkait juga harus mengupayakan perbaikan kualitas hidup sebagus upaya menyelamatkan jiwa serta menghindari prosedur menyakitkan yang tidak perlu bagi para bayi yang lahir terlalu muda itu.

Risiko lebih tinggi

Menurut Prof Neil Marlow, peneliti, sebagaimana dikutip dalam situs BBC, bayi yang lahir terlalu dini memiliki risiko lebih tinggi terhadap ketidakmampuan dan serangan penyakit dibandingkan anak-anak yang lahir cukup bulan atau tak prematur.

Studi EPICure telah mendata anak-anak yang lahir pada akhir tahun 1995. Temuan terakhir telah memperlihatkan, anak-anak tersebut kurang sensitif terhadap suhu panas dan dingin.

Hal ini dijumpai pada seseorang yang juga menjalani operasi saat melahirkan bayi. Sebab, trauma hebat pada masa-masa awal kehidupannya memengaruhi tingkat kepekaan bayi terhadap suhu udara.

Karena urat saraf yang mentransmisikan suhu badan ataupun rasa sakit adalah sama, anak-anak yang lahir prematur juga memiliki sensitivitas lebih rendah terhadap rasa sakit.

Meski perburukan itu tidak menimbulkan dampak terhadap keselamatan jiwa anak-anak itu, temuan tersebut diharapkan bisa mengubah cara yang akan mereka jalani dalam hidup.

Marlow menambahkan, penting bagi dokter untuk memahami tidak hanya bagaimana melakukan intervensi pada tahap paling awal perkembangan bayi memengaruhi fungsi sensor tubuh pada kehidupan selanjutnya. Dokter juga harus mengetahui bagaimana meminimalkan prosedur medis yang menyakitkan bagi bayi prematur.

”Dengan meningkatnya angka kelahiran prematur, studi ini akan membantu dokter meminimalkan prosedur menyakitkan bagi bayi prematur,” kata juru bicara Donasi bagi Bayi yang Butuh Pemeliharaan Khusus.
Sumber : Kompas.com

Read More......

Menyusui, Selamatkan Ibu dari Kanker Payudara

Menyusui dinilai penting untuk kesehatan baik bagi anak dan ibunya. Ketua Gerakan Organisasi Wanita Lamongan, Cicik Rosida Tsalits dalam Sosialisasi Inisiasi Menyusui Dini di Lamongan Minggu (21/12) yang diikuti para wanita dan bidan menyatakan prihatin dengan banyaknya ibu muda yang tidak mau menyusui karena takut payudaranya akan kendor, padahal dengan menyusui juga menyelamatkan ibu dari kanker payudara.

Sementara itu, Ketua Sentra Laktasi Indonesia, Utami Roesli sebagai pembicara memaparkan beberapa Negara sudah mengenal metode inisiasi menyusui dini (IMD) sejak medio 1987. Namun Indonesia baru mengenal metode IMD dua tahun terakhir.

Utami menyebutkan manfaat dari IMD diantaranya jalinan kasih sayang antara ibu, ayah dan bayi akan lebih baik. Dengan IMD bayi akan mendapat kolostrum yang kaya akan antibody, penting untuk pertumbuhan dan ketahanan infeksi bayi. Bagi ibu, IMD dapat mera ngsang produksi hormon oksitosin yang dapat mengurangi pendarahan, membuat ibu tenang dan rileks serta merangsang pengeluaran ASI, katanya.

Utami menyampaikan pentingnya IMD dilakukan sebab menurut penelitian dengan IMD delapan kali lebih berhasil untuk mensukseskan program enam bulan ASI eksklusif. Yang disiapkan Allah untuk bayi yang baru lahir adalah dada ibunya, bukan incubator. Dada ibu diciptakan untuk memiliki suhu yang lebih hangat dari suhu luar dan bisa menyesuaikan diri dengan suhu yang dibutuhkan bayi atau thermoregulator thermal synchron. Jika suhu dada ibu terlalu dingin untuk bayi, suhu dada ibu akan naik. Demikian pula sebaliknya, papar Utami.

Menurut Utami selama ini banyak orang salah dalam menangani bayi yang baru lahir. Dokter anak senior di RS ST Carolus Jakarta ini menegaskan anak adalah titipan Tuhan untuk ibu, bukan ke bidan. Oleh karena itu ibu-ibu harus minta hak IMD. Metode IMD sanga t sederhana. Bayi begitu lahir diletakkan di dada ibu sehingga ada kontak antara kulit bayi dengan kulit ibu. Beri waktu selama satu jam bagi bayi untuk mencari sendiri puting ibunya. Dalam usia bayi 20 menit, bayi akan mulai merangkak mencari puting ibun ya dan pada usia 50 menit akan mulai menyusui, katanya.

Namun jika bayi lahir normal langsung dipisahkan dengan ibunya untuk ditimbang, IMD tidak akan bisa dilakukan. Ini juga berarti mengurangi kesuksesan program ASI eksklusif enam bulan. Sebuah penelitian dari Inggris menyebutkan, menunda inisiasi menyusui dapat meningkatkan kematian bayi. Dengan IMD, dapat mengurangi resiko kematian bayi hingga 22 persen. Dan resiko ini akan semakin besar ketika semakin lama menunda permulaan penyusuan.
Sumber : Kompas.com

Read More......

Osteosarkoma, Paling Sering Menyerang Lutut

DIBANDING jenis kanker lain yang menyerang anak-anak, kasus kanker tulang (osteosarkoma) masih berada pada urutan terkecil. Namun, bila tidak segera mendapat terapi yang baik, kanker ini tentu akan menambah daftar kematian.

Dari banyaknya penyakit kanker yang sering ditemukan pada anak, salah satunya kanker tulang atau istilah medisnya osteosarkoma. Kanker ini menempati urutan kedelapan setelah kanker otot lurik atau rabdomiosarkoma sebagai pembawa kematian pada anak. Biasanya menyerang anak usia remaja, yaitu antara 10 hingga 18 tahun.

Penyakit ini diawali gejala-gejala seperti pembengkakan progresif disertai rasa nyeri dan demam. Kadang disertai trauma, misalnya jatuh, yang berakibat pada patah tulang yang terjadi di daerah tumbuhnya kanker. Patah tulang atau fraktur patologis itu seringkali terjadi karena adanya gerakan rutin.

Osteosarkoma umumnya cenderung tumbuh di tulang paha, tulang lengan atas (ujung atas), ujung atas tulang kering atau lutut. Ujung-ujung tulang tersebut merupakan daerah terjadinya perubahan dan kecepatan pertumbuhan terbesar. Kanker atau tumor ganas di daerah lutut paling banyak dijumpai.

Data di Amerika Serikat, setiap tahun ditemukan 1.500 kasus baru kanker tulang. Data yang dihimpun RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dalam periode 10 tahun terakhir, yaitu antara tahun 1995 sampai 2004, terdapat 455 kasus kanker baru, 118 atau 36 persen adalah kanker pada anak, 1,04 persen di antaranya kanker tulang. Kasus kanker tulang memang tidak sebanyak kanker lain.

Meski jumlahnya relatif kecil, dampak yang ditimbulkannya sangatlah besar. Anak-anak dapat kehilangan masa depannya akibat operasi atau amputasi pada organ tubuh yang terkena kanker ini. Sebab itulah kanker tulang pada anak perlu mendapat perhatian serius.

Laki-laki Lebih Rentan
Kanker ini berhubungan dengan periode kecepatan pertumbuhan, sehingga rata-rata mereka yang terdiagnosis berusia remaja. Menurut Prof. Dr. Errol U. Hutagalung, pada Seminar Ilmiah mengenai Kanker pada Anak di RS Kanker Dharmais, prevalensi kanker tulang pada anak laki-laki dan perempuan berbeda.

“Rasionya 1:2, dan lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki,” papar spesialis ortopedi onkologi dari RSCM ini.

Fakta ini diperkuat dengan hasil penelitian kasus kanker tulang di RSCM antara tahun 1995 hingga 2004. Dalam kurun waktu itu jumlah pasien anak laki-laki 79 atau 67 persen, sedangkan anak perempuan 39 anak atau 33 persen.

Hingga kini penyebab kanker tulang belum diketahui secara pasti. Ada dugaan bahwa osteosarkoma merupakan penyakit yang diturunkan. “Masih perlu penelitian lebih lanjut mengenai kanker tulang ini,” ujar Prof. Errol.

Harus Amputasi
Saat ini kemoterapi masih menjadi pengobatan utama untuk mengatasi kanker, termasuk kanker pada anak. Jika kanker diketahui secara dini, pengobatannya cukup mudah dilakukan dengan kemoterapi.

Biaya yang dikeluarkan juga tidak terlalu besar. Kendalanya, terapi dengan kemo ini memerlukan waktu yang relatif lama, dan ada berbagai efek samping yang ditimbulkannya.

Jika penyakit sudah berada pada stadium lanjut, harus ditangani bersama oleh ahli bedah ortopedi, patologi, dan radiologi. Pada langkah pertama biasanya dokter melakukan biopsi atau pengambilan jaringan dari sel-sel tubuh untuk diperiksa lebih lanjut.

Jika ditemukan keganasan, apalagi sudah ada penyebaran, dokter akan melakukan tindakan pembedahan dan pengangkatan. Bila lokasi kanker tidak bisa diselamatkan, tindakan amputasi atau pemotongan anggota tubuh pun tak bisa dihindari.

Tentu saja ini bukan berarti akhir hidup bagi pasien. Supaya pasien mampu menjalani masa depannya, bisa dilakukan rekonstruksi menggunakan autograft.
”Saat ini belum ada penelitian yang menunjukkan cara mencegah timbulnya kanker tulang pada anak karena kemungkinan kanker ini disebabkan oleh faktor genetika. Yang dapat dilakukan hanyalah deteksi kanker secara dini, sehingga dapat segera dilakukan pengobatan,” papar Prof. Errol.

Penyebaran pemahaman mengenai kanker kepada masyarakat awam sangat penting agar masyarakat lebih menyadari akan bahayanya. Setidaknya penggunaan bahan pengawet pada makanan yang disinyalir bisa memicu kanker, bisa dihindari.

Selain itu, orangtua harus lebih waspada dan segera memeriksakan anaknya bila mendapati gejala-gejala kanker. Kemungkinan sembuh tentu makin besar jika pasien datang pada stadium awal.

Masih Sulit Didiagnosis
Fakta penyebab kematian akibat kanker:
- Kesulitan diagnosis oleh dokter patologi tulang. Minimnya peralatan diagnosis yang tersedia dan sulitnya mendeteksi sel-sel kanker membuat dokter terkadang salah mendiagnosis tumor yang diderita pasien apakah tergolong jinak atau ganas. Dalam hal ini perlu kerja sama yang baik antara ahli bedah ortopedi, patologi, dan radiologi.
- Umumnya pasien datang ketika penyakit sudah berada pada stadium akhir. Pengobatannya pun jadi sulit, dan angka harapan hidup semakin kecil.
- Masalah sosial ekonomi. Penyakit kanker memang tergolong masih sulit diobati, belum lagi biaya pengobatan sangat mahal. Masalah biaya kerap menjadi alasan mengapa pasien tidak berobat. Bahkan, banyak pasien yang menolak dioperasi karena tak punya biaya.
- Komplikasi pada kemoterapi. Pengobatan dengan kemoterapi memiliki efek samping yang menyakitkan, sehingga membuat pasien menyerah dan menghentikan terapi.
- Kurangnya pengetahuan tentang kanker dan pengobatannya, membuat banyak orang memutuskan untuk memilih pengobatan alternatif yang biayanya relatif lebih murah, meskipun kenyataannya itu malah membahayakan kehidupan pasien

Sumber : Kompas.com

Read More......

Anak Gagap Jangan Digertak

ANAK-ANAK yang mengalami kegagapan dalam berbicara, ternyata lebih sering mendapat gertakan dibandingkan anak yang tidak gagap. Semakin parah kegagapan mereka, akan semakin sering pula gertakan yang diterima.

“Bbbbebebe.......bebe.....” Ari yang berusia sembilan tahun itu tak segera dapat meluncurkan kata “betul” dari mulutnya, saat harus menjawab pertanyaan dari gurunya. Yang terdengar kemudian justru teriakan teman-teman di kelasnya dengan bersama-sama melontarkan satu kata, “Dor!”

Ari tertunduk malu, ia tampak tidak berdaya menghadapi gertakan keras yang memotong kata yang hendak diucapkannya. Lebih-lebih ejekan dan suara tawa berseliweran dari teman-teman sekelasnya.

Sayangnya guru di kelas tidak cukup tegas memberikan perlindungan bagi murid yang mengalami gangguan wicara akibat gagap itu. Senyum tipis bahkan tersungging di bibir sang guru, meskipun setelah itu terucap peringatan tanggung, “Ssssttt.... anak-anak tidak boleh begitu. Beri kesempatan Ari untuk menjawab.”

Dengan situasi seperti itu, yang terjadi hampir setiap saat, Ari akhirnya lebih suka menarik diri dari pergaulan. Ia tumbuh sebagai anak yang pemalu, pendiam, dan lebih suka menghabiskan waktunya untuk belajar, sehingga nilai-nilai rapornya selalu bagus. Ari tumbuh sebagai anak laki-laki yang tampan dan cerdas, dengan bakat melukis yang bagus, tetapi gagap saat berbicara.

Anak Laki-Laki
Gagap dapat ditandai dengan ciri-ciri suara mulut yang berulang (terjadi repetisi), jaraknya panjang antara satu kata dengan kata berikutnya, atau mengalami blokade ketika akan mengucapkan sebuah kata.

"Penyebab gagap ini tidak tunggal, melainkan merupakan kombinasi yang kompleks antara faktor biologis dan kesalahan dalam proses belajar wicara," ujar William Murphy, peneliti di Department of Speech, Language and Hearing Science, Purdue University, AS.

Seorang anak dapat dideteksi mengalami kegagapan jika selama enam bulan atau setahun ia menunjukkan gejalanya terus-menerus. Biasanya dalam keluarga juga terdapat riwayat orang yang sudah lebih dulu mengalami kegagapan. Dalam hal ini biasanya lebih banyak terjadi pada anak laki-laki.

Di Indonesia, kita tidak pernah tahu berapa jumlah orang yang mengalami gagap. Namun, di Negara Paman Sam diperkirakan sekitar 5 persen anak pra sekolah dan 1 persen orang dewasa mengalami gagap.

Tingkat kekacauan saat berbicara ini sangat berbeda-beda pada setiap orang yang mengalami kegagapan. Ada yang tingkat kegagapannya tidak terlalu parah, tetapi hal itu sudah bisa menyebabkan penderitanya menarik diri dari pergaulan dan enggan berpartisipasi dalam percakapan karena merasa minder atau rendah diri.

Sering Digertak
Dalam berbagai kesempatan kita bisa menyaksikan bagaimana anak-anak yang sudah mengalami penderitaan akibat gagap dalam berbicara ini, harus semakin tersiksa oleh tingkah laku teman-temannya atau bahkan oleh orang dewasa lain yang tidak cukup bijaksana.
Anak-anak ini biasanya digertak sedemikian rupa ketika yang bersangkutan sedang mengalami kesulitan untuk mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Akibatnya, mereka menjadi semakin kecil hati, rendah diri, tidak nyaman, takut dan enggan untuk berbicara.

Menurut National Stuttering Association, AS, penelitian membuktikan bahwa anak-anak yang gagap berbicara justru lebih sering mengalami gertakan dibandingkan anak-anak lain. Dan semakin buruk kegagapan yang dialami seorang anak, semakin sering pula yang bersangkutan mendapat gertakan.

Dalam buku terbaru keluaran Purdue University berjudul Bullying and Teasing: Helping Children Who Stutter, di mana Murphy juga ikut menulis, dijelaskan bahwa bagi anak-anak yang gagap, gangguan dan gertakan dari teman-temannya justru membuat mereka lebih gelisah dan menderita dibanding gangguan wicara itu sendiri.

Mungkin itu pula sebabnya meskipun anak-anak itu sudah mendapatkan terapi wicara dan telah mengalami kemajuan dalam keterampilan berbicara, persoalan tidak dengan sendirinya terlepas dari mereka.

Anak-anak itu tetap saja memiliki perasaan negatif tentang dirinya dan kegagapannya, ketika mereka tumbuh semakin besar. Keterampilan mereka berbicara yang boleh jadi sudah tidak memperlihatkan sisa-sisa kegagapan, masih tetap dibayangi oleh rasa malu dan minder, yang diperoleh dari gangguan dan gertakan-gertakan yang telah dialami.

Sangat Terganggu
Di sisi lain, orangtua tidak begitu yakin apa yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan jika anak mereka yang gagap mendapat gertakan dan gangguan dari teman-temannya. Sebagian orangtua menyarankan anak-anak supaya membalas gangguan yang diterimanya. Yang lain menganjurkan untuk mengabaikan saja gertakan yang didapat, dan menjauh dari teman-teman yang suka menggertak dan mengganggu.

Namun, menurut Murphy, anak-anak tidak bisa sungguh-sungguh mengabaikan gangguan dan gertakan yang sering diterimanya itu karena memang mereka merasa sangat terganggu.
Melakukan serangan balik terhadap anak-anak atau orang lain yang mengganggu juga tidak menyelesaikan masalah, bahkan mungkin mendatangkan lebih banyak masalah dengan anak-anak yang suka menggertak itu.

Mengatasi kegagapan tidak semudah yang orang sering ucapkan ketika menghadapi anak gagap: “Pokoknya tenang dan kalem saja kalau mau berbicara.” Saran ini mungkin cocok bagi anak-anak yang grogi, tetapi bukan itu yang diperlukan oleh anak yang gagap.
Yang pasti, gagap pada masa anak-anak dapat diatasi dengan terapi wicara.

Terapi yang dilakukan ketika masih kanak-kanak akan lebih mudah meraih keberhasilan dibanding saat yang bersangkutan sudah dewasa. Salah satu contoh orang yang pernah mengalami kegagapan di masa kanak-kanak adalah Winston Churchill.

Untuk mengatasi perasaan negatif serta rasa malu akibat kegagapan yang pernah dialami itu, alangkah baiknya jika anak-anak mendapatkan pendampingan dari psikolog, selama diperlukan. Para guru di sekolah sangat diharapkan kontribusinya agar anak-anak yang gagap tidak menjadi semakin terpuruk oleh ulah teman-temannya, akibat sering menerima ejekan dan gangguan dari mereka.

Ngomong-ngomong, apakah Anda sebagai orangtua juga suka mengganggu dan menggertak anak Anda yang gagap?

Sumber : Kompas.com

Read More......

Jumat, 14 November 2008

Agar Tidur Lebih Nyenyak

“TIDUR nyenyak adalah dasar yang kuat untuk kesehatan mental dan fisik,” kata David Simon, MD, Direktur Medis The Chopra Center di Carlsbad, California, AS. Sel-sel tubuh kita membutuhkan istirahat untuk berfungsi optimal.

Sayangnya, jutaan orang menderita insomnia sehingga kelelahan, kurang awas mental, dan lemah secara fisik. Untuk menikmati tidur nyenyak, ikuti tip ini:

1. Jangan makan malam terlalu kenyang
Usahakan makan malam di bawah pukul 19.00 sehingga Anda tidak tidur dalam keadaan perut penuh.

2. Kurangi kegiatan yang menyita mental setelah pukul 20.30

3. Matikan lampu mulai pukul 22.30
Jika belum terbiasa tidur pada jam ini, majukan waktu tidur setengah jam lebih awal setiap minggu sampai akhirnya Anda biasa tidur pukul 22.30

4. Mandi air panas sejam sebelum tidur
Teteskan minyak esensial lavender, vanila, atau cendana ke dalam air mandi untuk membuat Anda lebih rileks. Redupkan lampu dan pasang terapi aroma. Jika memungkinkan, dengarkan musik yang lembut dan menenangkan.

5. Minum air hangat
Bisa berupa susu atau teh chamomile.

6. Menulis buku harian
Sesaat sebelum tidur, download isi pikiran Anda yang begitu aktif ke dalam buku harian, sehingga kepala Anda tidak terlalu penuh lagi.

7. Baca buku
Jangan pilih novel dramatis atau bacaan yang membutuhkan pemikiran. Pilih buku yang memberi inspirasi.

8. Rasakan tubuh Anda
Ketika sudah berbaring di tempat tidur, tutup mata dan rasakan tubuh Anda. Dengan cara itu, Anda membawa perhatian ke tubuh. Jika ada ketegangan di bagian tubuh tertentu, bawa rileks daerah itu.

9. Perhatikan napas sampai tertidur
Tindakan ini bisa membantu, mengingat Anda masih berbaring di tempat tidur. Diam-diam amatilah napas. Saat itu aktivitas metabolisme berada dalam keadaan lambat, sama seperti ketika kita tidur nyenyak. @

Read More......

Musik Sehatkan Pembuluh Darah

MENIKMATI musik favorit ternyata bukan hanya akan membuat hati riang dan tenang. Suatu riset di Amerika Serikat mengungkapkan, aktivitas mendengarkan lagu-lagu kesukaan dapat membuat pembuluh darah lebih menjadi sehat. Bahkan, efeknya juga menyerupai pengaruh obat-obatan pembuluh darah.

"Kami menemukan faedahnya cukup impresif. Diameter pembuluh darah membaik. Saluran pembuluh menjadi lebih terbuka secara signifikan. Anda dapat melihat pembuluh-pembuluh darah terbuka melalui berbagai aktivitas, seperti berolahraga," kata Dr Michael Miller, Direktur Bagian Pencegahan Jantung di Universitas Maryland Medical Center, Baltimore.

Efek yang sama, kata peneliti, juga bisa dilihat melalui penggunaan obat-obatan jenis statin dan ACE inhibitor.

Ketika saluran pembuluh darah lebih terbuka, darah akan mengalir lebih lancar sehingga akan memperkecil peluang terjadinya penggumpalan darah yang akan memicu serangan jantung atau stroke. Pembuluh darah yang elastis juga dapat menghindarkan risiko pengerasan dinding pembuluh atau aterosklerosis.

"Kami tidak menganjurkan untuk menghentikan penggunaan statin atau kegiatan olahraga, tetapi ini (mendengar musik) dapat ditambahkan pada program kesehatan jantung secara keseluruhan," ujar Miller yang mempresentasikan temuannya dalam pertemuan American Heart Association di New Orleans.

Dalam risetnya, Miller melibatkan 10 pria wanita sehat yang tidak merokok. Partisipan diinstruksikan untuk menikmati musik favorit mereka selama setengah jam dan setengah jam lainnya mendengarkan musik yang dianggap mereka menyebabkan cemas. Selama mendengarkan musik, partisipan juga menjalani tes ultrasound yang didesain untuk memantau fungsi pembuluh darah.

Dibandingkan dengan rata-rata ukuran normalnya, diameter pembuluh darah para partisipan tercatat melebar sekitar 26 persen ketika para partisipan mendengar musik kesukaanya. Sedangkan ketika mendengar musik yang tidak disukai—pada kasus ini kebanyakan adalah heavy metal—pembuluh darah menyempit sekitar 6 persen, kata Miller.

Miller menuturkah, ide untuk melakukan penelitian ini diilhami hasil penelitian sebelumnya bahwa kebiasaan tertawa membuat aliran pembuluh darah menjadi lebih lancar. Dalam riset ini, kebanyakan partisipan memilih musik country sebagai favorit. Namun, Miller menegaskan, jenis musik favorit tentu bisa berbeda dan yang pasti haruslah menyenangkan.

Sumber : Reuters

Read More......

Lingkar Perut Tambah 5cm, Risiko Mati Meningkat

BAGI Anda yang memiliki berat badan normal tetapi bentuk perut Anda buncit sebaiknya mulai waspada. Suatu riset terbaru mengindikasikan, tumpukan lemak pada lingkar pinggang dapat meningkatkan risiko kematian seseorang, bahkan pada mereka yang bobot tubuhnya termasuk normal.

Hasil kajian terhadap sekitar 360.000 orang di sembilan negara Eropa belum lama ini menyebutkan, ukuran lingkar pinggang dapat menjadi indikator yang kuat dalam mengukur risiko kematian dini. Para ahli menyimpulkan, setiap penambahan 5 sentimeter pada lingkar pinggang atau perut, risiko kematian dini akan meningkat antara 13 hingga 17 persen.

Dalam laporan yang dipublikasikan The New England Journal of Medicine itu, para peneliti menganjurkan agar para dokter melakukan pengukuran lingkar pinggang pasien secara teratur sebagai salah satu cara mudah dan murah dalam memeriksa kondisi kesehatan.

Kaitan antara penumpukan lemak pada perut dan problem kesehatan memang bukan hal yang baru. Tetapi dengan berkembanghnya riset berskala besar tentu dapat memberi gambaran lebih akurat mengenai masalah ini.

Dalam penelitianya, tim dari Imperial College London, memantau ratusan ribu partisipan berusia 51 selama kurun waktu 10 tahun. Hingga masa pemantauan berakhir, tercatat 14.723 orang meninggal.

Indikator obesitas seperti , massa indeks tubuh (BMI) masih tetap digunakan para peneliti sebagai instrumen untuk memprediksi problem kesehatan. Mereka yang skor BMI-nya tinggi cenderung meninggal akibat penyakit kardiovaskular atau kanker.

Namun demikian, rasio 'panggul/pinggang ' (angka yang diperoleh dari hasil pembagian antara ukuran lingkar pinggang dan panggul) serta skor pengukuran lingkar pinggang sendiri, ternyata juga menjadi instrumen yang akurat dalam menentukan siapa saja yang berisiko paling tinggi. Beberapa yang skor BMI-nya normal, tetapi memiliki skor lingkar pinggang yang di atas rata-rata, ternyata berisiko lebih tinggi mengalami kematian dini secara signifikan.

Pada kasus-kasus yang ekstrim, para pria yang lingkar pinggangnya melebihi 119cm berisiko hingga dua kali lipat mengalami kematian dini dibanding mereka yang berukuran di bawah 80cm. Penghitungan yang sama juga ditemukan pada wanita yang lingkar pinggangnya di atas 99cm di bandingkan yang berukuran 64,7cm.

Peningkatan risiko kematian juga akan muncul di saat lingkar pinggang bertambah setiap dua inci atau sekitar lima cm pada dua orang dengan skor BMI sama. Setiap penambahan 5cm risiko akan meningkat 17 persen pada pria dan 13 persen pada wanita.

Sumber : BBC

Read More......